Memandang Orang Tua, Dulu dan Kini

sumber gambar: Ittiba' Sunnah

Hampir dua minggu sudah ibu tidak ke masjid menyiapkan makanan berbuka puasa. Jika tidak sakit, ibu akan siap di masjid jam 5 sore. Apa tidak kecepetan datangnya? Mengingat buka puasa disini jam 18.30-an. Masjid masih sepi. Makanan kiriman belum ada. Tidak banyak yang bisa dikerjakan.

Setiap wadah lepek berisi 3 macam jajanan pasar, kombinasi manis dan gurih. Aku perhatikan ada ibu-ibu yang menyimpan jenis jajanan tertentu, mengutamakan mengeluarkan jenis yang lain. Strategi menyimpan jika ada lebihan, bisa dibawa pulang panitia. Ibu mana ada kepikiran sengaja menyimpan jajanan untuk dibawa pulang.

Selama bekerja, ibu tidak banyak mengobrol dengan ibu-ibu lain. Fokus bekerja saja dan memastikan keperluan jama’ah sudah siap. Taat pada SOP meski tidak tertulis.

Itulah ibu. Agak kaku dan tidak asyik.

--

Dulu saat masih aktif sebagai pegawai negeri di Balai Latihan Kerja Industri, ibu juga tidak macam-macam. Taat pada aturan. Masuk kantor jam 8 pagi, pulang jam 4 sore. Di usia SMA, aku mengetahui fakta pegawai-pegawai lain ada yang santai saja jam 2 siang sudah pulang. Kenapa ibu tidak begitu juga? Biar pulangnya tidak selalu sore. Jadinya kecapekan deh. Mengerjakan pekerjaan rumah, sambil marah-marah.

Bapak juga seorang PNS. Seperti ibu, bapak juga datang dan pulang kerja pada waktunya. Aku merasa sebagai anak, kurang sekali waktu bersama orang tua. Syukurnya bapak suka ajak ngobrol dan bercanda. Bapak adalah penyelamat selera humorku.

Memori ingatan masa kecilku terbagi dua kubu. Ibu yang pemarah, serius, dan tidak bisa diajak bercanda. Bapak yang suka bercerita, lebih asik dan humoris.

--

Sehari-hari keluarga kami hidup hemat. Kami jarang bepergian apalagi belanja untuk hiburan. Pernah sekali waktu ke pasar malam. Kebayang serunya bisa naik wahana dan beli jajan. Kenyataannya, kami hanya menonton orang-orang naik wahana. Sebagai oleh-oleh beli snack bundling sebungkus besar, dibagi-bagi untuk 4 anak.

Ibu dan bapak sudah bekerja keras. Konon PNS hidupnya mapan, tapi kenapa kami hidup irit sekali?

Apa karena banyak anak jadinya pengeluaran bengkak? Aku pernah kesal dengan banyaknya jumlah anak ibu bapak. Ketidakpuasan dengan kondisi ekonomi keluarga sering membuat aku berkhayal seandainya lahir di keluarga yang lebih berada.

--

Seiring waktu. Bocah polos dan egois ini semakin bertambah umur. Kuliah, lalu menikah dan punya anak. Lebih banyak bepergian. Lebih banyak bertemu orang. Melihat lebih luas pengalaman, memberi sudut pandang yang beragam tentang hidup. Apa yang terlihat, terjadi pasti ada sebab dan hikmah.

Seperti ibu yang kaku dan tidak asik itu. Melakukan pekerjaan sebagaimana seharusnya. Tidak mencoba memanipulasi, tidak mengobrol diluar urusan kerjaan, datang dan pulang sesuai waktu. Bukankah dalam mengemban amanah memang seharusnya begitu ya? Beliau sedang praktik integritas.

Dalam hal pekerjaan, Bapak dan Ibu mirip. Bidang pekerjaan Bapak berhubungan dengan hal perijinan perusahaan swasta. Bapak suka bercerita, jika selesai urusan terkait perusahaan-perusahaan itu ada saja yang memberi tanda terima kasih. Mungkin karena betul-betul merasa terbantu. Ya bapak membantu sebagaimana mestinya tanpa sengaja meribetkan. Sesuai prosedur saja.

Hadiah-hadiah ini kalau diketahui ibu, akan ibu suruh kembalikan. Padahal lumayan banget bisa dibuat makan-makan atau belanja nyenengin anak. Yah,itulah ibu. Kalau dulu aku kesal tapi sekarang aku bersyukur. Ibu menjaga dan memastikan pemasukan jelas dan terhindar dari hal yang meragukan. Menjaga sumber yang halal, mengharap keberkahan.

--

Keluargaku hidupnya hemat sekali. Anak-anak nyaris tidak punya hiburan. Disuruh belajar, agar nilai bagus dan bisa masuk sekolah negeri unggulan. Meski kerja seharian, ibu selalu menyempatkan masak untuk keluarga. Jaraaang sekali beli akan diluar. Pernah beli sate atau martabak. Senang luar biasa. Meski makannya dijatah. Maklum anggota keluarga banyak. Agar semua kebagian. Oh dan itu dimakan sebagai lauk ya, bukan cemilan.

Bahkan sampai sudah besar aku bingung dengan mode super hemat ini. Karena faktanya bapak dan ibu bisa naik haji. Akhirnya mampu beli mobil keluarga. Lalu tahu-tahu punya kontrakan 1 rumah diluar kota dan paviliun 4 pintu. Sekarang pun membeli lahan kosong untuk bangun TK. Hemat itu sudah memiliki wujud dan bisa terlihat! Jadi selama ini kita punya uang. Apakah kami sebenarnya bisa punya aneka mainan, lebih banyak bacaan, lebih banyak pengalaman dan jalan-jalan?

Dulu aku kesal. Kini, fakta bahwa tidak sedikit orang dewasa yang bekerja mengumpulkan uang untuk membiayai orang tuanya. Belum lagi harus bayar sekolah untuk saudara lainnya. Merenungi itu apa tidak harusnya aku bersyukur? Semua kerja keras dan gaya hemat –yang ternyata maknanya menabung- adalah agar masa depan dihari tua mereka tidak susah. Terdengar mementingkan diri sendiri. Namun aku dan saudara-saudaraku juga merasakan dampaknya. Kami dapat bekerja, punya penghasilan, dan menjalani rumah tangga masing-masing dengan tenang tanpa perlu menjadi sandwich generation.

Ibu dan Bapak tidak memberi kami banyak teori tentang mengelola keuangan. Mereka menunjukkan aksi nyata berbelanja sesuai kebutuhan, tidak berhutang diluar kemampuan, dan tidak perlu mengikuti mode jika itu berarti boros.

--

Ibu dan Bapak kini sudah pensiun. Bapak harus jaga makanan karena kolesterol tinggi. Ibu hasil MCU-nya baik semua, tapi ibu sedang batuk-batuk sekarang. Sepertinya karena beban pikiran yang beliau tidak cerita tapi kami bisa tebak.

Kalau sudah begini aku yang dulu sering menyalahkan ibu. Sekarang, sudah lebih banyak maklum. Kalau dulu ibu sering marah-marah hanya karena beliau terlalu lelah. Ditambah beban tanggung jawab membesarkan empat orang anak. Ibu ini ternyata termasuk orang yang sabar. Terutama bisa tetap telaten melayani kebutuhan bapak yang kadang seperti anak-anak.

Ibuku sesungguhnya baik sekali. Kekurangan beliau hanya lemah di komunikasi, tidak pandai jujur tentang diri sendiri.


Tulisan pertama di 2026 untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog’. . Meski agak berat menaklukkannya, akhirnya tunai juga.

Comments

Popular posts from this blog

Drama yang Mewakili Opini Tak Populerku

"Korban" Fast Fashion

"Nyupir", Momenku Tanpa Internet