Posts

Showing posts with the label itbmh

Berharap Tanpa Ragu

Image
Baru-baru ini Adit kehilangan ponsel khusus kerjaan. Sudah bongkar-bongkar rumah, sampai mengecek CCTV kantor tidak ada titik terang. Berharap teman kantor ada yang menemukan. Dua hari berlalu. Nihil. Adit memang ceroboh. Mau dirahasiakan tapi dia butuh bantuan Tia, istrinya, untuk mencari di rumah. Kehilangan HP juga berarti harus mengganti senilai jutaan rupiah. Itu bukan jumlah yang sedikit. Adit takut istrinya marah. Kekhawatirannya tidak terbukti. Tia malah terlihat tenang. Apa jangan-jangan disembunyikan? Gara-gara dirinya sering lebih asik bermain game online setiap pulang kantor. Sebabnya akhir-akhir ini ada tuntutan lebih dari tim di permainan dunia maya itu. Adit mencoba menelepon. Ada suara hubungan tersambung, meski tidak ada yang mengangkat. Adit yakin ada di suatu tempat, bukan dicuri. Tapi dimana? Kehilangan ini membuat Adit merenung dan introspeksi diri. Ini pasti teguran Tuhan atas kelalaiannya. Adit meminta maaf kepada istrinya. Padahal istrinya tidak marah ata...

Gambaran Dapur Makan Siang Sekolah Jepang dalam Dorama

Image
Pernah dengar cerita kondisi Jepang pasca bom atom? Saat Negara sedang hancur-hancurnya, Kaisar Hirohito bertanya tentang jumlah guru yang masih hidup. Hal ini membuat bingung para jenderal. Banyak rakyat miskin, kelaparan dan tidak punya tempat tinggal karena perang. Kenapa malah mencari guru? Yes, karena sang kaisar paham bahwa untuk membangun peradaban harus dimulai dari pendidikan. Mindset nomor 1 tentang pendidikan ini melingkupi semua lini termasuk soal makanan. Bagaimana Jepang menanamkan pendidikan melalui makanan kepada masyarakatnya? Salah satunya melalui gerakan makan siang di sekolah. Sistem ini ternyata dibangun sejak lama sekali lho. Nanti kita bahas diakhir ya. Hubungan antara pendidikan dan makan siang disajikan dalam bentuk drama berjudul “ Chef : Three Star Lunch School ” atau judul aslinya “ Chef – Mitsuboshi no Kyushoku ”. Menonton dorama ini memberi aku gambaran dapur yang membuat makan siang sekolah di Jepang. 1. Sin opsis Cerita “Chef: Three Star Lunch Sc...

Kota Beriman dalam Ingatan dan Harapan

Image
        Aku kelahiran Samarinda. Tapi hanya sampai 4 atau 5 tahun besar disana. Selanjutnya usia TK pindah ke Berau karena Bapak pindah tugas kesana. Hanya 4 atau 5 tahun juga. Setelah itu dipindahkan ke Samarinda lagi sampai kelas 1 SMP. Lalu pindah lagi ke Balikpapan sampai lulus SMA. Kebayang ya sekolah berpindah-pindah tapi masih disitu-situ aja, masih di Kalimantan Timur juga.          Gak seru ah! Ingin deh keluar pulau Kalimantan. Disini tuh gak terlalu asik untuk liburan. Tempat wisata terbatas kalaupun ada kurang lengkap dan kurang terawat. Moda transportasi juga tidak ada yang istimewa. Kalau mau dibandingkan dengan di Jawa yang hiburan, wahana, liburan, transportasi lebih seru, bergam dan terjangkau. Itu dari sudut pandang aku dulu sebagai penduduk lokal yang minim petualangan. Efek lihat TV juga kayaknya ya, sering diberitakan kondisi Jawa kan ya apalagi Jakarta. Padatnya jalan menuju puncak –bukan theme song acara audi...