Ulasan Buku Memahami (Bakat) Diri Dahulu, Memandu (Bakat) Anak Kemudian

        Anak-anak bertumbuh dengan cepat. Waktu masih balita rasanya rajin memantau perkembangan kemampuannya. Masuk Sekolah Dasar dan bertemu dengan teman-teman yang memberi pengaruh cukup besar. Seiring dia makin besar dan akupun semakin menua, sebagai IRT yang kebanyakan waktu dihabiskan rumah membuat diri ini jadi bertanya-tanya. Sekarang aku menikmati kesibukanku mengurus rumah, suami dan membersamai anak-anak. Namun aku sadar dalam beberapa tahun kedepan jika anak-anak sudah besar, aku harus kembali punya kegiatan yang produktif.

        Dulu sekali sepintas pernah membaca judul buku ini di sosial media. Memahami (bakat) Diri Dahulu, Memandu (bakat) Anak Kemudian (MDDMAK). Sepertinya aku butuh ini tapi tak kunjung dimiliki. Sampai suatu hari secara mengejutkan aku memenangkan give away. Hadiahnya memilih buku dari sponsor. Diantara beberapa judul buku tentu saja aku pilih buku yang sudah lama penasaran ini. Menambal informasi berharap dapat insight baru dalam proses membesarkan anak-anak. Aku berharap anak-anakku bisa optimal dengan potensinya. Namun sebelum itu, sebagai orang tua harus lebih dulu melakukannya. Memberi contoh dengan aksi, akan berdampak karena anak-anak bisa melihat. Orang tuanya bekerja, orang tuanya berkarya.

Cover Depan Buku MDDMAK oleh Andita A. Aryoko

        Buku ini ditulis oleh Andita A. Aryoko untuk menyemangati para orang tua, khususnya kaum ibu agar bisa lekas selesai dengan dirinya. Kemudian menemukan dan menjalankan misi spesifik dari-Nya dengan bahagia. Lalu berlanjut dengan tugas memandu bakat anak.

        Apakah anda sebagai orang tua ingin mengetahui bakat anak-anak? Kalau saya iya. Dan sepertinya banyak orang tua seperti itu. Alasannya ingin memberi stimulasi dan pendidikan yang tepat, mengoptimalkan potensi anak sejak dini, agar mereka tidak perlu galau berlama-lama mencari jati diri seperti yang dulu dirasakan orang tuanya. Tahukah anda bahwa 87% mahasiswa merasa salah jurusan? Menjalani masa-masa perkuliahan yang tidak sesuai panggilan itu rasanya seperti makan lupa minum, seret. Orang tua tidak ingin anak-anaknya mengalami hal serupa. Apalagi membayangkan tantangan anak-anak di masa depan akan lebih berat. Pintar saja tidak cukup kalau tidak ditunjang dengan banyak kemampuan dan keterampilan.

Kutipan Tentang Bakat Anak pada Kata Pengantar Penulis

        Bakat adalah potensi bawaan manusia berupa pikiran, perasaan, perilaku dan dapat dimanfaatkan untuk produktivitas. Potensi kekuatan ini perlu dikembangkan dengan menambah keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge), dan sikap (attitude). Bakat tidak bisa terlihat hanya dengan membaca buku atau tes-tes bakat. Bakat akan terlihat jelas jika beraktivitas. 

Tentang Stunting yang Beneran Penting!

        Politik membuat orang jengah dan apatis. Tidak peduli siapapun yang jadi toh sama sama aja negara ini. Citra politik jadi demikian hina karena para pelaku didalamnya. Padahal politik itu hanya sebuah kendaraan. Arah mana menuju tergantung pengendara dan juga penumpangnya. Kok penumpangnya juga? Iya, supir bisa saja berjalan tersesat tapi kalau penumpangnya kritis bisa mencegah hal-hal buruk terjadi. Pernahkan ada kebijakan yang gagal dilaksanakan karena ada respon penolakan dari masyarakat?

        Ada artikel menarik. Tentang pemerintahan yang tidak memajukan pendidikan rakyatnya. Akses pendidikan sengaja dibuat sulit. Biaya sekolah melambung. Kurikulum yang menyusahkan. Kenapa? Karena masyarakat bodoh itu lebih mudah diperalat, gampang diadu-domba, malas, maunya instan, suka hiburan, tidak suka belajar. Kalau bisa dapat uang tunai kenapa harus capek-capek kerja? Atau kalau kerja mau yang mudah, gajinya besar, bergengsi pula. Membaca artikel itu membuatku ngeri. Jangan sampai negeri ini punya pemimpin seperti itu.

        Tiba-tiba nulis tentang politik. Sebenarnya bukan tidak tertarik, hanya biasanya cuma ada di pikiran saja. Februari 2024 tanggal 14 ini, akan ada pesta demokrasi pemilihan langsung kepala daerah, juga Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia 2024-2029. Sesuai momennya, "Tantangan Mamah Gajah Ngeblog" men-challenge para member-nya menulis tentang “Harapan untuk Pemimpin Indonesia”. Agak susah karena banyak rambu-rambunya haha. Salah satunya tidak boleh menunjukkan keberpihakan pada salah satu paslon. Betul-betul menantang buatku nih.

1st Challange Complete, Yes!

        Mau cerita sedikit tentang kisahku sebagai ibu. Memiliki anak pertama. Mindset saat itu hanya seputar pengasuhan. Sudah terbayang dan saling sepakat dengan pasangan, kami akan mendidik anak begini dan begitu. Lakukan ini. Jangan lakukan itu. Tidak memberi anak screen time sebelum 2 tahun. Beli mainan yang mendukung daya berpikir anak, bukan hanya lucu atau bersuara dan berlampu-lampu. Membacakan buku setiap hari. Melibatkannya dalam aktivitas sehari-hari. Membuat ia mendiri. Hal-hal seperti itu. Apakah berjalan sesuai rencana? Alhamdulillah iya. Perkembangan motorik dan bahasanya terlihat tidak ada masalah. Menurut kami dia pintar, fokusnya bagus dan cepat menangkap sesuatu. Hal yang patut disyukuri tentu.

       Namun dibalik itu kami menyadari ada hal yang luput kami perhatikan. Soal status gizi dan pertumbuhannya. Terlalu banyak pikiran saat hamil membuat aku terlambat tahu detil tentang bagaimana ibu hamil dan apa yang harus diperhatikan bayi baru. Hanya informasi umum bahwa ibu harus sehat dan tidak boleh makan sembarangan, rutin kontrol kandungan, minum suplemen, berusaha bersalin normal dan memberi ASI pada bayi. Tetapi aku kurang mengerti mengapa kenaikan BB ibu itu penting, kenapa harus minum air putih lebih banyak. Aku tidak punya buku pink KMS yang ternyata didalamnya sudah terangkum banyak informasi. Nasib anak rantau yang baru pindah tempat tinggal.

        Kurangnya ilmu dan pengetahuan ini membuat kami terkejut saat aku dinyatakan hipertensi dan harus induksi untuk segera melahirkan. Linglung. Keputusan cepat dibuat. Persiapan melahirkan sangat singkat. Beberapa jam kemudian bayi perempuan mungil lahir. Aku belum bisa langsung bertemu. Bayi harus diobservasi dulu. Sekitar 12 jam, aku dan dia bertemu pertama kali. Langsung mencoba IMD. Alhamdulillah bisa ASI eksklusif 6 bulan. Itu kabar bagus. Sayangnya aku tidak plot BB di KMS yang seharusnya aku berusaha keras untuk boosting BB-nya yang kurang agar bisa ke titik pertumbuhan rata-rata. Dan pertumbuhan tercepat itu di 3 – 6 bulan. And I lost that moment. Karena aku gagal paham.

         Lalu kemudian santer program pencegahan stunting. Di TV ada iklan obat cacing. Cacingan dapat menyebabkan stunting. Ya, dan itu bukan satu-satunya. Meskipun aku tidak tahu anakku ini stunting apa tidak, tapi dia pernah divonis gagal tumbuh oleh dokter anak. Dari perawakan dia pendek. Orang-orang bilang kecil seperti ibunya. Ha-ha-.

         Belakangan aku baru mengamati penyebab pertumbuhan anakku terhambat setidaknya ada beberapa faktor diantaranya kenaikan berat badan ibu saat hamil tidak rendah, ibu hamil mengalami hipertensi, BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah), diare, infeksi bakteri, dan beberapa penyebab lain terkait kebersihan udara dan lingkungan. Mohon maaf aku tidak bisa menyebutkan secara detil. Dari masalah yang dialami anakku, masih bisa dikejar kalau segera ditangani. Sayangnya aku baru melakukan pemeriksaan saat usianya sudah 18 bulan. Setelah pengobatan berangsur naik berat badan dan bertambah tingginya, walau tetap lebih pendek dari anak seusianya.

Cover Feed IG theAsianparent : "Kebijakan Capres tentang Stunting"

        Kenapa isu stunting ini penting? Persoalannya bukan soal pendek dan tidak. Atau sulit bersaing dengan tenaga kerja asing yang fisiknya lebih baik. Lebih serius, anak stunting itu kecerdasannya kurang. Daya tahan tubuhnya juga tidak begitu bagus, mudah sakit. Dalam kehidupan sehari-hari orang pendek itu daya jangkaunya juga pendek. Selain itu biasanya juga kurus. Lemah, mudah capek. Akan sulit dalam pelajaran dan pekerjaan. Bayangkan lebih jauh ke masa depan generasi selanjutnya.

        Flash back ke masa-masa menikah lalu hamil. Bisa dibilang kondisi keuangan termasuk rumah tangga perjuangan. Waktu hamil sering khawatir soal finansial. Untuk makan dipikirkan betul mau masak apa, maklum anggaran belanja terbatas. Kehamilan semakin besar tenaga untuk mengerjakan perkerjaan rumah tangga termasuk masak mulai terbatas. Kalau sudah begitu beli makan diluar ya mampunya beli kaki lima. Alhasil pernah diare saat hamil dan harus minum oralit. Berat badan saat hamil juga hanya naik 10-an kg. Dokter Obgyn berkali-kali menasehati makan sedikit tapi sering, hal yang susah kulakukan saat itu. Kan harus irit.

         Sekarang anaknya sudah masuk SD. Termasuk anak yang pendek di kelas. Kendala pertama di seragam sekolah, harus permak dipendekkan sedikit padahal sudah ukuran kecil. Di pelajaran olahraga, dia kalah saing saat lari. Field trip yang biasanya anak-anak suka, tapi dia gak mau ikut. Gampang capek, pernah juga malah jadi sakit. Porsi makannya juga sedikit.

         Aku mengalami masalah di anak yang stunted. Dokter anak bilang usahakan berat badan anak naik, dengan begitu harapannya tinggi anak juga bertambah. Itu saja sudah pusing. Menaikkan berat di usia anak sudah sekolah itu tantangannya banyak. Waktu untuk memberi anak asupan berkurang karena dia sekolah fullday. Terkadang jadi sakit tertular teman-temannya di sekolah. Belum lagi anak-anak yang suka minta jajan. Jajanan sekarang kandungannya banyak yang mengkhawatirkan. Cobalah tengok jajanan murah anak-anak di pedangan asongan atau warung dekat rumah. Laris manis karena ibu-ibu kebanyakan duidnya cukupnya beli jajan itu.

         Persoalan stunting ini kompleks. Ibu-ibu doang akan kesulitan, butuh dukungan pemerintah yang bisa bertindak dengan membuat kebijakan yang komprehensif. Pas banget momen pemilu, aku menyoroti program capres terkait hal ini. Aku setuju banget dengan pendapat ahli gizi, dokter Tan Shot Yen, salah satu aspek penting persoalan stunting adalah ketahanan pangan. Bukan hanya soal ketersediaan stok, juga mengkampanyekan pangan lokal. Juga regenerasi kader-kader posyandu sebagai garda depan yang bertemu langsung dengan ibu dan anak. Keberadaan posyandu kurasakan punya peran yang besar bisa mengedukasi masyarakat tentang kesehatan ibu dan anak. Mengadakan pengukuran dan penimpangan bayi dan balita. Serta menjalankan PMT (Pemberian Makanan Tambahan) olahan bahan lokal yang real food, bukan dengan memberikan makanan instan atau jajan pabrikan yang minim gizi.

        Dari Ketua Umum IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, mengatakan fokus persoalan stunting di 1000 HPK. Maksimal hingga 5 tahun anak harus mendapat asupan protein hewani yang cukup. Negara kita kaya akan sumber protein hewani seperti ikan, telur, unggas. Susu hanya sebagai tambahan, bukan menu utama. Tugas pemerintah juga memastikan harga bahan pokok yang terjangkau. Bagaimana anggota keluarga bisa cukup gizi kalau ibu tidak bisa membeli bahan makanan akibat harga yang terus naik, tidak sebanding dengan pendapatan.

     Aspek lainnya berhubungan dengan kesehatan. Sanitasi dan ketersediaan air bersih masih jadi privilege tampaknya di negeri ini. Kalau kalian tinggal di kota besar dalam perumahan yang sistem airnya dikelola swasta mungkin tidak merasakannya. Untuk warga di rumah-rumah dempet, PDAM yang dikelola Negara itu entah bagaimana sering matinya. Lalu persoalan lingkungan terkait kualitas udara. Sumber polutan yang dihadapi semakin berat dan beragam dari  asap kendaraan, asap pabrik, pembakaran sampah juga asap rokok. Sanitasi dan kualitas udara yang buruk berdampak pada kesehatan anak-anak. Kalau anak sering sakit akan mengganggu pertumbuhannya. Aku ngarep banget pemimpin yang bisa tegas persoalan lingkungan ini. Apakah ada? Harusnya sih ada ya.

Cover Feed IG @cisdi.id Membahas Gagasan Ketiga Capres tentang Stunting
      

        Mengenai masalah ini, Bagiku memilih pemimpin masa kini, haruslah seseorang yang paham strategi dan cerdik. Aku pribadi mendambakan pemimpin yang mampu melihat satu masalah, membahasnya secara mendalam, mencari sumber masalah terkait lalu berdiskusi dengan para ahli agar mendapat solusi yang tepat. Yah, politik mungkin membuat kita jengah. Tapi kalau disuruh memilih ya aku akan pilih. Tidak golput. Meskipun tampaknya satu suara seperti tidak ngaruh, setidaknya aku sudah memilih. Memilih dengan alasan, bukan karena ikut-ikutan. Memilih juga bukan sekedar memikirkan nasib kita, tapi juga untuk seluruh masyarakat. Jadi saat kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang menurut kita buruk semua. Pilih yang less evil than worst. Memilih sambil didoakan. Ya, karena orang bisa berubah. Tentu saja harapan kita berubahnya ke arah yang baik.

Media Pemersatu Eyang, Anak, Mantu dan Cucu

         Suami dan aku sama-sama berasal dari orang tua yang memiliki empat anak. Formasi jenis kelamin berkebalikan. Aku 3 bersaudari dengan 1 saudara, suami 3 bersaudara dengan 1 saudari. Dalam tulisan ini aku mau cerita dari keluarga besar suami. Suami anak kedua, otomatis punya kakak satu dan dua adik. Anak pertama, kakak iparku, adalah yang pertama menikah. Empat tahun kemudian suami, dan aku sebagai istrinya hehe. Saat kami menikah kakak ipar sudah punya dua (2) orang anak. Setahun kemudian suami melalui aku, kami dikaruniai satu (1) orang anak. Lalu anak ketiga (adik ipar), anak perempuan satu-satunya menikah dan punya satu (1) orang anak. Beberapa bulan sebelum adik ipar lahiran, istri kakak ipar melahirkan juga jadi bertambah satu (1) orang lagi anaknya. Hanya dalam beberapa tahun jumlah anggota keluarga bertambah banyak. Ya, kedua mertuaku dengan segera menjadi eyang-eyang dengan lima (5) orang cucu.

 Setelah berkeluarga, hal biasa anak sudah tidak tinggal serumah lagi dengan orang tua. Kakak iparku tinggal di Tangerang, sedangkan suami dan aku memilih tinggal di Bandung. Keluarga anak ketiga tinggal bersama orang tua alias mertuaku. Anak keempat masih bujang, belum menikah, jadi masih tinggal dengan orang tua juga. Aku dan suami posisinya menjadi anak dengan rumah terjauh, maka kalau kami sedang mudik ke rumah orang tua menjadi momen untuk bisa kumpul bersama. Full team keempat bersaudara itu.

 Bagi kita orang-orang dewasa ini, kumpul keluarga itu hal yang menyenangkan dan dinanti-nanti. Untuk melepas rindu sekaligus rehat sejenak dari rutininas harian yang padat. Itu dari sisi orang dewasa, bagaimana kalau anak-anak? Apakah mereka suka acara kumpul-kumpul seperti ini? Agaknya jaman sekarang berbeda ya dengan kita kecil dulu. Aku masih ingat perasaan semangat kalau mau pergi ke tempat sepupu. Betah lama-lama karena seru main bersama. Kalau sekarang ada gadget diantara mereka. Itulah tantangannya.

 Aku sering mendapati Akung yang terlihat berusaha untuk mengajak main, bercanda untuk mendekati cucu-cucunya. Anak-anak tampak kurang tertarik. Main HP atau menonton TV lebih mereka sukai. Anakku saat itu usianya masih 4 tahunan ikut jadi bosan karena tidak ada teman main. Paling jadinya main sendiri dengan mainan yang ada. Sedih sih kalau melihat hubungan sepupu yang tidak akrab. Bagaimana ini ya?

 Sampai suatu hari, kakak ipar membawa mainan sederhana yang biasa dimainkan sama anak-anaknya. Mainan ini lebih seru kalau dimainkan banyak orang. Yes, itulah Uno! Aturan bermainnya cukup sederhana, Akung gampang mengerti. Sekali dicoba oleh sedikit orang, lumayan bikin heboh bersorak. Utri yang tadinya cuma jadi penonton, penasaran dan tertarik ikutan main. Semakin banyak yang main, semakin seru dan ramai! Anakku yang belum mengerti hanya bisa ikut mengamati orang bermain sambil duduk di pangkuan Papanya.


 Warna-warna tegas kartu Uno membuat anakku tertarik sekali. Semakin antusias ketika dia ditanya dan bisa menyebutkan angka dan warna kartunya. Yes, kartu Uno berguna juga jadi media belajar anak. Kalau kartunya tidak sedang dimainkan, dia akan main sendiri. Dikelompokkannya berdasarkan warna atau sesuai dengan gambarnya. Dia jadi semakin hapal angka-angka. Selesai dengan angka dan warna, rupanya anak ini penasaran dengan gambar atau simbol lain yang ada di kartu. Kita akan bahas tapi sebelumnya aku akan jelaskan singkat cara bermainnya. Tulisan ini ikut serta dalam tantangan Mamah Gajah Ngeblog (MGN) bulan November 2023.


 UNO dapat dimainkan oleh 2 sampai 10 pemain. Standarnya setiap pemain mendapat 7 kartu. Sisa kartu yang tidak habis dibagian diletakkan di tengah-tengah pemain dalam keadaan terbalik (tertutup). Tumpukan kartu ini akan menjadi cangkulan yang akan diambil oleh pemain yang tidak memiliki kartu sesuai yang diminta. Berbeda dengan permainan cangkul pada kartu remi yang kartu diambil terus sampai dapat, pada UNO kartu hanya diambil satu. Kalau kartu yang dicangkul belum cocok, pemain itu hanya ketambahan satu kartu, namun kehilangan kesempatan untuk mengurangi jumlah kartunya. Untuk bermain, ambil 1 kartu dari tumpukan dan letakkan dengan kartu menghadap atas. Warna dan gambar pada kartu tersebut akan menjadi acuan memulai permainan.

Sumber Gambar : Liputan6.com

 Selanjutnya tentang simbol-simbol dalam kartu diantaranya terdiri dari kartu angka, +2, +4, bentuk oval 4 warna (kartu wild), gambar dua panah berseberangan (kartu reverse), dan tanda lingkaran dicoret (kartu skip). Berikut penjelasan tentang arti dan fungsi dari simbol-simbol pada kartu UNO: 

1.    Kartu Angka. Sesuai namanya gambarnya berupa angka 1 sampai 9. Ada 0 juga tapi pada kartu yang kami mainkan tidak ada. Kartu ini ada 4 macam warna yaitu merah, kuning, hijau, dan biru. Setiap angka memiliki 2 kartu dengan warna yang sama.

2.     Kartu +2. Dapat digunakan untuk menjebak pemain selanjutnya, dia harus mengambil 2 kartu dari cangkulan. Namun strategi ini tidak berhasil kalau ternyata pemain itu juga punya kartu + yang sama. Dia bisa mengeluarkan kartu yang sama, lalu itu akan menjadi akumulasi bagi pemain selanjutnya lagi. Demikian seterusnya jika pemain lain juga memilikinya. Sampai ke pemain selanjutnya jika tidak punya + maka dia harus mencangkul sebanyak jumlah kartu +. Ini salah satu bagian yang seru kalau bermain dengan banyak orang.

3.      Kartu +4. Sama seperti kartu +2. Jumlah cangkulan lebih banyak sesuai angkanya yaitu 4 kartu. Salah satu strategi jitu untuk menambah jumlah kartu lawan dan mencegahnya menang.

4.      Kartu Reverse atau Putar Balik. Jika ingin menggunakan kartu ini harus menyesuaikan dengan kartu sebelumnya, bisa sama warna atau sama simbol. Dengan digunakannya kartu ini arah putaran permainan akan berlawanan. Kanan ke kiri menjadi kiri ke kanan. Jika hanya main berdua, si pemilik kartu akan jalan lagi.

5.       Kartu Skip. Kartu ini juga harus menyesuaikan dengan kartu sebelumnya, bisa sama warna atau sama simbol. Kartu ini akan memberhentikan pemain selanjutnya sesuai jumlah kartu skip yang dikeluarkan. Kalau 1 kartu skip berarti satu orang dilewati, kalau 2 kartu berarti lewat dua orang demikian seterusnya. Jika hanya main berdua, si pemilik kartu akan jalan lagi.

6.      Kartu Wild. Kartu dengan gambar bentuk oval dengan 4 warna ini istimewa karena bisa dikeluarkan kapan saja, untuk warna dan simbol apa saja. Pemain yang menggunakan kartu ini bebas menentukan kartu apa yang harus dikeluarkan pemain setelahnya.

 

Setiap kali bermain UNO ada saja aturan yang berbeda. Beda lawan main, ada saja aturan yang berubah. Sampai aku tidak paham bagaimana aturan sebenarnya. Tidak masalah bagaimanapun peraturannya asalkan sudah diberi tahu sebelum permainan dimulai. Disepakati sejak awal. Istilahnya bebas modifikasi aturan, jadi bisa ramah anak. Aturan bisa dijadikan sederhana untuk menyesuaikan dengan kemampuan anak. Jadi anak bisa menang juga walaupun bermain bersama orang dewasa. Sebenarnya ada sistem pengumpulan poin yang dihitung dari sisa kartu pemain lawan. Kami tidak pernah melakukannya, selain tidak telaten biasanya pemain silih berganti.

Oke, setelah mengajarkan anak cara bermain UNO meski tidak terlalu yakin dia mengerti atau tidak. Maka mari praktik, kami coba mainkan dengan aturan paling sederhana. Siapa yang kartunya habis lebih dulu maka dialah pemenangnya. Sekali mengambil kartu hanya boleh satu. Kalau kartu kita sisa satu, harus mengatakan “UNO” kalau tidak mau di dor pemain lain dan kamu akan kena denda menambah satu kartu dari tumpukan. Strategi sederhana juga diajarkan, bagaimana agar kartu lawan kita tidak cepat habis dengan memanfaatkan kartu-kartu bonus kalau kita punya. Surprise, walaupun masih gagap tapi secara umum dia paham aturannya. Wah, ini sih persoalan jam terbang aja. Kalau sering main, bisa jadi jago.

Sudah tahu aturan main, saatnya menguji. Pertama kalinya dia ikut turnamen Uno skala keluarga wkwk. Masih didampingi dan bisik-bisik Papanda. Dengan bergabungnya anak 4 tahun ini, jadi makin seru. Biasa yang pemula ini jadi sasaran empuk untuk dikalahkan. Harusnya, tapi ini engga. Mbah atau omnya sengaja ngasi kartu aman kalau duduk di sebelah anak-anak. Tidak tega kalau anak kecil cepat kalah. Haha. Kalau sudah main Uno rumah jadi ramai. Bersorak dan tertawa. Aku juga suka lihatnya. Mbah, anak, mantu, cucu bisa membaur dengan mainan ini. Dan entah sejak kapan Uno menjadi barang wajib kalau kumpul-kumpul keluarga. Pernah kita staycation ke Taman Safari, lupa bawa Uno. Bela-belain cari toko yang jualan. Dapatnya UNO Express, yang sederhana. Tidak apa daripada tidak ada. Sudah pada tidak sabar untuk turnamen lagi.


 Uno seperti menjadi saksi perjalanan tumbuhnya anak-anak. Mereka bisa lupa dengan gadget dan semangat bermain Uno. Ada pelajaran lain untuk anak-anak. Bagaimana merayakan kemenangan tanpa mengejek yang kalah, dan bagaimana menyikapi kekalahan dengan tidak sedih berlebihan.


 UNO menjadi kartu andalan keluarga, pemersatu semua. Namun dibalik itu, perekat sesungguhnya adalah orang tua. Selagi mereka masih ada, rumahnya adalah tempat paling ideal bagi anak cucu berkumpul.

 

 

Referensi:

https://www.liputan6.com/hot/read/4927664/cara-bermain-uno-dan-aturannya-yang-benar-pahami-fungsi-kartu?page=4

Perjuangan Menerima Diri Sendiri

Kata-kata sangat powerfull. Dia bisa membuat orang bersemangat, sebaliknya bisa membuat orang terluka bahkan secara ekstrim menjadi trauma. Belasan tahun setelah denial akan kondisi diri, merasa tidak apa-apa, tidak pantas atau malu bercerita ke siapa-siapa sehingga membuat aku jadi orang yang tetutup. Satu hal yg membuatku bersyukur ternyata itu membuatku hanya punya satu tempat curhat yaitu kepada Tuhanku, Allah SWT. Aku yang pemalu ini memberanikan diri menulis hal yang aku merasa tabu. Bagiku ini seperti menantang diri untuk berani, semoga cukup layak memenuhi kriteria Tantangan MGN bulan September 2023 tentang Pengalaman Menghadapi Tantangan Terbesar dalam Hidup

Julukan masa kecil

Namanya anak kecil, hal biasa kalau lucu lalu mendapat sebutan-sebutan yang juga bikin gemas. Aku juga ada. Disingkat 3E alias “Esek, Elek, Endek”. Kalau disebut begitu semua orang akan tertawa ya termasuk aku. Tiga kata dari bahasa Jawa itu bermakna pesek (hidung yang tidak mancung), elek (jelek), dan pendek (terkait tinggi badan). Ah luar biasa memang. Julukan itu teringat terus sampai aku besar. Dan semakin banyak pengalaman dan semakin mengerti artinya membuat aku tidak menyukai diriku.

Aku tidak tau kenapa dilabel pesek. Memang aku tidak mancung jika maksudnya seperti orang bule Eropa, tapi akupun tidak pesek. Biasa saja. Aku tidak cantik, jika mengambil standar kecantikan pada umumnya. Mungkin itu sebab aku dilabel elek. Untuk endek jelas karena aku pendek. Betul-betul kecil sampai rok sekolah size terkecil, menjadi rok panjang jika kupakai.

Adik yang Cantik

Memiliki saudara yang elok harusnya membuat senang atau bangga. Sepertinya aku berusaha seperti itu. Jarak usia kami 3 tahun tapi karena aku kecil jadi orang suka mengira aku adiknya, dan adikku adalah kakaknya. Awal-awal dibilang seperti itu aku baper berat. Lama-lama kebal. Mau bagaimana lagi kami sering sekali bersama. Terlepas dari omongan orang, hubunganku dengan adik sangat dekat. Adikku orangnya baik dan –sayangnya- lugu, karena itulah walau aku sering dibanding-bandingkan dengannya aku tidak bisa membencinya. Aku memendam semua perasaan itu sendiri.

Ucapan orang-orang membuatku minder

Diantara ketiga label yang kusebutkan diatas, label elek yang paling sering kudengar. Karena ternyata aku mendapat kata-kata serupa cukup banyak dari orang lain. Sayangnya ternyata aku baper sampai minder dibuatnya. Potensi yang aku punya, ikut terkubur bersama rasa tidak percaya diri. Jalan dengan kepala dan bahu menunduk. Komentar lagi-lagi datang soal itu. Bukan dari orang lain melainkan keluarga sendiri. Belum lagi diskriminasi atas sikap orang-orang kepada si cantik dan yang tidak.


Mirip Ibu

Namanya anak ya wajar mirip dengan orang tuanya. Itulah aku. Semakin besar, semakin mirip dengan Ibu. Baik postur tubuh, wajah hingga tinggi badan. Sampai-sampai aku punya tekad harus lebih tinggi dari Ibu. Dan ternyata berhasil. Aku beberapa cm lebih tinggi darinya.

Berbeda dengan adik, hubunganku dengan Ibu kurang harmonis. Aku pernah didiamkan beliau selama 3 hari. Saat itu aku masih SMP. Sebabnya aku tidak menjawab ketika disuruh belanja ke warung. Aku ingin menolak tapi masa alasannya malu? Bisa jadi anak durhaka, maka aku memilih diam. Itu pikiranku saat itu. Ternyata bernasib dicuekin sama Ibu. Istilah sekarang silent treatment, sebuah bentuk komunikasi tidak sehat.


Masa-masa Kuliah

Walau sempat nganggur setahun setelah lulus SMA, aku bersyukur diterima di kampus gajah. Memulai hidup baru di kota yang baru, aku merasa merdeka. Ibu Bapak bangga anaknya masuk ITB. Siapa yang sangka aku yang minim prestasi ini. Persoalan masuk beda ya dengan perjuangan untuk keluar ITB haha. Seorang diri di perantauan dan harus beradaptasi dengan lingkungan, bahasa dan makanan yang baru ternyata menjadi tahun-tahun yang cukup berat untukku. Homesick hingga sick beneran selama setahun TPB. Sulit karena aku tidak bisa ikut kegiatan kaderisasi KMSR (Keluarga Mahasiswa Seni Rupa) yang prosesnya selama 1 tahun dan biasanya sampai larut malam. Sungguh setahun yang emosional.

Begitulah aku sampai di tahun ketiga mulai terbiasa dan menikmati Kota Bandung. Di tahun inilah, adikku menyusul ke Bandung. Alhamdulillah dia diterima Kedokteran Gigi UNPAD. Kuliahnya bukan di UNPAD Bandung, tapi di Jatinangor. Beda kota tapi jarak kami dekat, mudah dan murah bisa naik Bus Damri. Cukup sering juga kami saling berkunjung, agar Ibu Bapak juga tidak terlalu khawatir anak-anak gadisnya jauh di rantau.

"Me and My Little Sister"

Selesai studi di Jatinangor, adik pindah ke Bandung untuk menjalani masa koas di RSGM (Rumah Sakit Gigi dan Mulut) UNPAD Bandung. Kami tinggal satu kosan, beda kamar. Karena sudah satu kota kami kembali sering bepergian dan aktivitas bersama. Tak jarang dia main ke ITB lalu bertemu dan aku kenalkan dengan teman-teman satu Program Studi. Biasanya kami bertemu di sekitar Masjid Salman. Sejujurnya ada rasa insecure kalau dibanding-bandingkan lagi. Ya ada aja sih tapi ya dianggap bercanda sajalah. Ha- ha-

Kupikir semua sudah damai ya. Sampai suatu kepanitiaan non kampus. Seorang bapak muda mempertanyakan bahkan heran apakah aku dan adikku benar-benar saudara? Dengan berlagak bercanda aku beranikan diri tanya alasan, dia tidak menjawab dengan jelas. Aku mengerti arah pembicaraannya. Sampai bertanya-tanya apa aku seburuk itu ya?

Di kesempatan lainnya, aku kembali harus berurusan dengan bapak itu. Biasanya aku orang yang suka bercanda tapi sejak obrolan kecil itu aku jadi menghindar bicara dengan si bapak. Allah seperti ingin menghiburku, Dia menunjukkan kepadaku bahwa masalah bukan ada padaku. Si Bapak itu ternyata matanya suka “travelling”. Kalau melihat perempuan maka fisik adalah hal yang diperhatikannya.

Lebih Baik Fokus dengan Value Diri, Yes

Menuju Pernikahan

Bagian mendebarkan juga ini. Di satu sisi bersyukur pernah kenal dan berteman dengan lelaki yang dia merasa cocok denganku, lalu mantap saja langsung ingin melamar. Setelah menikah barulah aku tahu ceritanya, perjuangan dia mengenalkanku sampai mendapat restu. Kami tidak pacaran, kenal juga karena pernah satu organisasi. Hal yang baru di keluarganya, sehingga wajar kalau kedua orang tuanya merasa ragu. Apalagi ini perempuan jauh asal Kalimantan. Syukurnya kakanda teguh dan bisa meyakinkan. Setelah oke dari keluarganya, dia menelpon orang tuaku meminta ijin. Ini menjadi berita yang menggemparkan di keluargaku. Siapa sangka aku yang tidak pernah mengenalkan pacar ke bapak, tiba-tiba ada yang menelpon mau menikahi putrinya. Rasanya juga senang banget bisa memberikan kabar bahagia ke Ibu Bapak.

Proses selanjutnya adalah berkenalan dengan orang tuanya. Kami semua posisi di Bandung, sedangkan rumahnya di Tangerang Selatan. Maka rencananya kami akan pergi naik travel bertiga, aku ditemani oleh adikku. Kebayang kan bagaimana gugupnya mau ketemu calon mertua. Overthinking tak terhindarkan. Terutama bagian, bagaimana kalau beliau berharap punya menantu cantik? Jelas aku hanya bisa tersenyum. Malamnya aku menelpon orang tua meminta doa dan kelancaran. Salah satu pertanyaan dari seberang telepon, “Nanti engga salah orang kan ya, dikira adek calonnya.” Ditanya seperti itu aku yang gugup gembira berubah menjadi sedih down seketika. Terdiam berganti jadi air mata. Aku kehilangan kata-kata. Lalu menjawab pendek-pendek, salam, tutup telepon. Ah, mungkin bercanda. Aku terlalu baper saja.

"Hidup adalah Tantangan"
 

Syukur Adalah Kunci

Alhamdulillah, Allah pertemukan dengan pasangan hidup ajaib seperti bisa membaca perasaanku. Dialah orang pertama yang aku berani cerita tentang diriku. Pelan-pelan aku belajar mencintai diri-sendiri. Sekarang kalau ada yang bilang aku mirip Ibu, aku akan jawab “Ya kan Anaknya Ibu!”. No Baper detected. Hehe





8 Keinginan yang Membuat Semangat

 

Membahas tentang keinginan yang ingin dicapai itu cukup membuatku berpikir lama. Lama karena memikirkan keinginan apa yang mau diceritakan ke umum karena ini bisa beririsan sama target hidup yang tentunya ada unsur privasinya. Atau juga terlalu receh sampai engga seru kayaknya kalau ditulis, beberapa juga abstrak. Setelah dipikir, ditulis, dihapus, ditulis lagi sampai yakin maka terkumpullah 8 daftar keinginan yang ingin sekali bisa jadi kenyataan. Indikator capaiannya jelas jadi bisa dicoret dari My Dream Book kalau sudah terwujud.


Tulisan ini dibuat untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan 8 tahun 2023. Selamat membaca!

1.       Pohon Tabebuya

Pertama kali terpesona sama cantik si bunga kuning tabebuya yang ditanam diantara gedung Perpustakaan Pusat dan Gedung PAU ITB. Kalau sedang berbunga lebat halaman rumah akan bagus sekali, romantis gitu. Jadi punya cita-cita suatu hari nanti ingin menanam tanaman ini di halaman rumah. Sepertinya mudah ya tinggal tanam aja di rumah. Masalahnya di rumah orang tua halamannya nyaris habis ditutup keramik atau paving blok. Tabebuya pohon besar yang cukup butuh lahan. Maka ini jadi keinginan jangka panjang, aku akan tanam di rumahku sendiri. Kalau sudah menikah nanti. Itu pikiranku dulu saat masih kuliah S1. Sekarang bagaimana? InsyaAllah semakin dekat menjadi kenyataan.


2.       Anak Ketiga

Waktu baru punya anak 1, inginku punya anak 4 cuma karena aku dan suami sama-sama 4 bersaudara. Bercanda banget, tapi ternyata suami serius gak mau punya anak 4. Tiga saja cukup. Pengamatan dia dan dari ceritaku juga, entah bagaimana dia menyimpulkan kalau 4 bersaudara itu akan ada anak yang tidak diperhatikan. Dua anak terlalu sedikit, 3 anak dirasa jumlah yang pas. Waktu itu aku masih kepingin aja punya 4.

Setelah lahiran anak kedua, dengan drama dan merasakan sensasi kontraksi yang luar biasa. Membuatku jadi urung anak 4. Haha. Sekarang si bayi sudah 2 tahun, tandanya aku harus siap-siap untuk hamil lagi. Suami nunggu aja kapan mental aku siap. 5 tahun maunya. Tapi itu terlalu lama karena usiaku tidak lagi muda. Kelamaan juga. Jarak 3-4 tahunlah. Rencana manusia, semoga Allah mengizinkan. Fisik, mental dan finansial yang lebih siap. Aamiin.

 

3.       Naik Berat Badan

Biasanya wanita middle 30 pada rame mau singset eh ini malah mau menggendats. Haha. Terakhir kali gembul saat aku masih balita, setelah itu ramping senantiasa. Padahal aku suka makan. Teman SMA sampai heran dan pada ngiri. Asik asik aja punya badan mungil. Selain tidak gemuk, aku juga tidak tinggi. Kalau melihat putriku yang baru masuk SD, seperti melihat aku saat kecil. Seragam pasti ada yang dikecilin, padahal sudah ukuran kecil.

Rasa ingin gemuk baru muncul saat kuliah, ada aksi donor darah. Sudah lama banget pengen donor. Baru timbang berat badan aku sudah tidak layak donor. Sedih deh. Sampai hari ini belum pernah. Malahan aku menerima donor 2 labu darah setelah melahirkan anak kedua. Amat terasa slogan “Donate Blood, Saves Life”. Walau belum bisa donor aku cukup senang karena suami bisa dan biasa mendonor sejak jaman kuliahnya. Jadi aku yang paling semangat membagi informasi kepadanya. Aku dan anak-anak bagian menghabiskan bingkisannya aja hehe.

 

4.      Umrohkan Bapak Ibu

Kalau hanya bisa memilih salah satu, mana yang lebih dulu ya? Pergi haji untuk diri dan suami atau membahagiakan kedua orang tua dengan memberangkatkan umroh keduanya? Alhamdulillah, Ibu Bapak sudah pernah naik haji tapi mendengar mereka rindu Ka’bah rasanya ingin bisa memberangkatkan. Entah ini bisa terwujud kapan, semoga ada rejeki usia, kesehatan dan harta untuk mewujudkan haji kami dan umroh orang tua. Aamiin

 

5.       Usaha Toko Refill (Bulk Store)

Keinginan ini berhubungan dengan perhatianku pada sampah. Jaman sekarang untuk bisa sama sekali tidak nyampah rasanya mustahil. Kalau untuk diri sendiri bisa saja, tapi alangkah bagusnya kalau kita mengajak lebih banyak orang. Maka toko ini dihadirkan dengan maksud itu. Sudah ada beberapa toko ini di berbagai tempat di Indonesia namun jumlahnya masih langka dan terkesan eksklusif. Padahal toko refill ini sistemnya kan jual curah, seperti warung di tahun 90-an. Saat kita kalau mau beli minyak tanah atau minyak goreng harus membawa jerigen sendiri. Jadi konsep toko ini sebenarnya mengembalikan kembali keramahan toko kelontong pada masa dahulu.


6.       Mengajak Keluarga Besarku Silaturahim ke Keluarga Besar Suamiku

Kalau benar-benar mau dilaksanakan ini akan jadi proyek besar. Judulnya saja mengajak, artinya adalah mentraktir. Setidaknya untuk tiket pesawat pulang pergi. Harga pesawat BPN ke CGK lebih mahal daripada Air Asia ke Singapura. Kenapa oh?

Tujuh tahun menikah, keluargaku belum pernah main ke rumah mertua di Tangerang Selatan. Keluarga suami semua pernah ke Balikpapan. Sekali pada hari resepsi di Balikpapan dan tidak ada unduh mantu. Syukurnya ibu bapak sudah pernah dijamu dan jalan-jalan bersama besan. Yang belum adalah saudara-saudaraku beserta keluarga kecil mereka.

Jaman kecil dulu saat kami semua masih single, kami suka sekali bepergian bersama-sama. Sekarang semua sudah berkeluarga, mewujudkannya menjadi tantangan sendiri. Kalau ingat ini lagi rasanya bersemangat dan tidak sabar. 

 

7.       Liburan Keluarga Besar ke Taman Safari Bogor

Impian yang ini sepaket dengan keinginan nomor 6. Setelah silaturahim ke rumah mertuaku, agenda jalan-jalannya ke Taman Safari Bogor dan menginap semalam disana. Karena jumlah anggota keluarga yang banyak dan akan kurang puas kalau sehari saja. Sayang dong sudah jauh-jauh dari Kalimantan harus puas. Keinginan ini ditulis dengan mudah, tapi teknisnya harus betul-betul dipikirkan. Terutama kendaraan karena kemungkinan butuh 3 mobil. Tabungan juga harus banyak karena pasti banyak makanan yang ingin dicoba dan oleh-oleh yang ingin dibawa.

Salah satu tempat menginap di Taman Safari Indonesia
sumber: youtube Azka Family

8.       Produksi Bantal Custom (lagi!)

Sejak pindah dari Bandung 2 tahun lalu, aku sudah berniat menyudahi usaha yang pernah aku dan suami jalankan. Di Balikpapan suami ingin fokus bekerja saja, bukan wirausaha lagi. Kami sepakat. Aku juga akan sibuk dengan 2 anak dan urusan rumah. Juga diamanahi sebagai bendahara sekolah TK yang didirikan Bapak.

Kenapa keinginan ini muncul lagi? Kemarin saat membantu mempersiapkan logistik acara perpisahan TK, aku harus mencari tempat yang bisa bordir satuan. Saat main ke rumah produksi bordir dan ngobrol dengan owner-nya inilah yang membuat aku ingin membuka kembali usaha bantal printing custom kami. Ajakan untuk bergabung dengan UMKM Wilayah semakin membuat aku semangat. 


Itulah setidaknya 8 keinginanku. Besar harapan semuanya bisa terwujud. Kalau kata Andrea Hirata di Laskar Pelangi, “Bermimpilah, dan Tuhan akan Memeluk Mimpimu”. Kalaupun tidak terjadi, percaya saja itu yang terbaik menurut-Nya.



Kota Beriman dalam Ingatan dan Harapan

      Aku kelahiran Samarinda. Tapi hanya sampai 4 atau 5 tahun besar disana. Selanjutnya usia TK pindah ke Berau karena Bapak pindah tugas kesana. Hanya 4 atau 5 tahun juga. Setelah itu dipindahkan ke Samarinda lagi sampai kelas 1 SMP. Lalu pindah lagi ke Balikpapan sampai lulus SMA. Kebayang ya sekolah berpindah-pindah tapi masih disitu-situ aja, masih di Kalimantan Timur juga. 

       Gak seru ah! Ingin deh keluar pulau Kalimantan. Disini tuh gak terlalu asik untuk liburan. Tempat wisata terbatas kalaupun ada kurang lengkap dan kurang terawat. Moda transportasi juga tidak ada yang istimewa. Kalau mau dibandingkan dengan di Jawa yang hiburan, wahana, liburan, transportasi lebih seru, bergam dan terjangkau. Itu dari sudut pandang aku dulu sebagai penduduk lokal yang minim petualangan. Efek lihat TV juga kayaknya ya, sering diberitakan kondisi Jawa kan ya apalagi Jakarta. Padatnya jalan menuju puncak –bukan theme song acara audisi salah satu tv swasta- dan kemacetan di tol saat lebaran adalah headline yang cuma bisa kami lihat di acara berita televisi tanpa pernah tahu bagaimana rasanya.

       Beruntung aku nekat merantau ke Jawa setelah lulus SMA. Alasan ingin keluar selain untuk mendapat pengalaman baru, juga karena ada kebosanan di rumah. Aku kurang menonjol dalam bakat dan prestasi bila dibandingkan saudara yang lain. Syarat dari Ibu dan Bapak kalau mau kuliah harus masuk di kampus negeri. Kampus swasta terlalu berat untuk kondisi ekonomi keluarga saat itu, persiapan untuk 4 anak. Lulus SMA aku langsung ikut mbakku yang kuliah di Semarang. Belum punya tujuan mau ikut ujian dimana dan ambil apa. Betul-betul tidak jelas. Sampai tanpa sengaja mbak browsing ketemu USM FSRD di website ITB. Oya, membuka internet di tahun 2006 itu umumnya berarti pergi ke warnet. Tidak semudah sekarang bisa akses dari HP. Waktu itu aku sedang ikut bimbel tapi karena mau ikut USM ITB langsung berhenti dong lesnya. Minta izin orang tua untuk mencoba dan minta ditemani mbak berangkat ke Bandung. Asik naik kereta api! Kalau aku gak merantau gini, mana tahu rasanya naik kereta api. 

        Kalau dipikir-pikir saat itu ya, pede amat ini anak gak tahu apa-apa mau mencoba ke kampus beken yang pasti bersaing ketat. Berhasil? Gagal! Gimana mau berhasil, persiapan nyaris gak ada selain semangat dan nekat. Gak mau menyerah dong, coba lagi tahun depan. Hanya sekali lagi ini aja, kalau gagal lagi ya pasrah aku akan balik pulang dan ikut apa kata orang tua. Kali ini belajar gambar private sama teteh senior FSRD. Alhamdulillah yaaa beneran si teteh jadi senior. Aku lulus jadi mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB! Lika-liku studi sebagai mahasiswa ITB Strata 1 dijalani pas 4 tahun dengan IPK pas-pasan. Lalu aneka rupa aktivitas masih dilakukan di Bandung sampai akhir tahun 2020, saat pandemi, aku kembali ke kota halaman yaitu Balikpapan.

Jalan Raya Komplek Balikpapan Baru


       Kalau ditanya daerah asal, singkat akan aku jawab Balikpapan. Walau bukan lahir disini dan tidak juga lama tinggal di kota ini. Hanya 5 tahunan. Malah lebih lama di Bandung, 13 tahun wow! 

        Kota yang sedang naik daun karena digadang-gadang sebagai gerbang Ibu Kota baru. Aku salah satu yang tidak begitu tertarik karena sadar ibu kota bisa berarti ramai, padat, macet yang lebih dekat dengan sebutan banyak polusi. Meski dampak positif pada potensi ekonomi. Ya semoga juga diimbangi dengan perhatian pada stabilitas sosial dan juga lingkungan. Pembangunan jalan tol seperti gak heran meminta pembebasan lahan dari masyarakat namun dihargai jauh dari harga pasar. Seperti yang terjadi pada pembangunan Jalan Tol Balikpapan - IKN yang meliputi beberapa wilayah diantaranya, Karang Joang – KALTIM Kariangau Terminal Kariangau – Simpang Tempadung – Jembatan Pulau Balang. Protes dari warga ada, namun akhirnya pasrah dengan harga yang ditetapkan demi pembangunan IKN. Menurut Ketua RT.11 Kelurahan Karang Joang harga untuk Ring-1 dihargai termahal 1,5 juta per meter hingga termurah 400 ribu rupiah per meter dari yang seharusnya 5 juta rupiah per meter. Harga rumah dan tanah disini jadi melambung. Lahan baru banyak dibuka untuk menjual perumahan atau tanah kavlingan. 

        Kalau ke Balikpapan dan cuaca cerah akan disuguhkan pemandangan langit yang biru jernih. Awannya juga kelihatan putih bersih. Indah banget. Rela deh kepala pegel karena kelamaan mendongak ke langit. Seorang teman alumni SITH ITB juga mengakui indahnya biru langit di Balikpapan, namun dia juga khawatir kalau si biru ini akan sirna bila terjadi penebangan besar-besaran di Kalimantan Timur khususnya.

    Belasan tahun lalu perjalanan antar kota rute Balikpapan - Samarinda masih terasa banyak hutan di pinggir jalannya. Kalau kesana sekarang pemandangan hutan tidak lagi dominan, sudah berganti jadi perkebunan sawit atau lahan gundul yang entah akan dibangun apa. Salah satu kawasan hutan yang masih bisa dilihat kalau melintasi jalan ini berada di kawasan hutan penelitian dan pendidikan Universitas Mulawarman.


Minimarket dan Kendaraan non-KT
        Kota ini tidak punya banyak mall, tapi ada banyak sekali minimarket skala kecil, menengah dan beberapa toko besar. Dulu toko-toko ini biasanya punya warga atau pengusaha lokal dan tidak terlalu banyak. Indomaret bisa dihitung jari dan adanya Alfamidi bukan Alfamart, yang juga langka. Tapi sekarang kok banyak sekali. Ternyata oh ternyata efek dari perubahan peraturan walikota tentang pengaturan izin minimarket yang sebelumnya (Perwali Nomor 34 Tahun 2013 Pasal 5) jarak antar minimarket dibatasi 2 km namun dalam Perda yang baru, hanya sekitar 100 meter saja. Pantesan jamuran ya eh menjamur maksudnya. Pemerintah sedang kerepotan karena banyak minimarket belum berizin tapi sudah beroperasi. Pedagang yang tadinya tertib sekarang udah mulai banyak yang liar. Apalagi pendatang makin banyak. Jalanan semakin padat dan mulai semerawut. Dulu saya bangga disini warganya tertib lalu lintas, sering ada razia kelengkapan kendaraan. Dampak positif dari pemeriksaan ini warga jadi terpaksa tertib. Saat ada traffic light kendaraan harus berhenti dibelakang garis zebra cross, pengendara mobil harus pasang seatbelt, helm motor harus SNI dan dikunci talinya, kaca spion motor harus lengkap kanan-kiri. Pernah sampai seperti itu kalau tidak siap-siap dicegat petugas. Kendaraan juga jauh lebih ramai beraneka huruf plat kendaraan dari berbagai daerah di Indonesia. Kalau dulu masih didominasi plat KT. Sudah ada titik-titik yang rutin macet pada pagi dan sore hari. “Lagi training jadi ibu kota, nih.” kelakar salah satu warga Balikpapan. Buang sampah juga diatur waktunya. Hanya boleh dilakukan saat matahari terbenam hingga fajar tiba, hampir mirip orang buka puasa. Kalau tertangkap buang sampah ke TPS diluar waktu itu bisa kena denda. 

Gerobak Penjual Cincau Hijau di Balikpapan
        Belasan tahun di Bandung lalu memutuskan pindah kota. Yang terbayang aku akan kangen dengan jajanan atau menu makanan khas Bandung. Bagaimana bila ku rindu? Eh pas nyampe Balikpapan ternyata Bubur Ayam Bandung sudah ada dimana-mana. Bahkan salah satu yang terkenal kata temenku, sudah ada 5 tahunan lalu. Roti bakar khas Bandung jadi pilihan kudapan manis malam-malam seperti terang bulan. Ubi madu Cilembu yang matang dan mentah ada. Sempat ada yang jual peyeum juga, tapi tidak bertahan lama. Ayam goreng Bandung. Cakwe dan odading, disini disebutnya roti goreng. Odading sunda pisan ya. Es cincau hijau, harus ada "hijau"-nya karena cincau sini default-nya warna hitam. Eh kok malah membahas Bandung ya, belum bisa move on nih.

Roti Bakar Bandung di Balikpapan 

        Balikpapan baru saja akhir februari 2023 lalu meraih Adipura Kencana. Ini penghargaan kelima sejak tahun 2017 atas prestasi kebersihan dan pengelolaan sampahnya. Balikpapan memiliki tempat pengelolaan sampah terbaik di Asia Tenggara. Semoga tidak membuat jumawa siapa saja dan lalu menurun prestasinya. Meski terkenal tapi kota ini tidak punya satu ciri kota besar yaitu landmark. Jadi kalau datang ke Balikpapan berfotolah dimana saja.

Field Trip TK ke TPA Manggar, Balikpapan

        Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan bulan juli 2023 dari Mamah Gajah Ngeblog tentang "Daerah Asal".


Sumber Informasi:

Website Media Kaltim diakses bulan Juli 2023: https://mediakaltim.com/warga-terdampak-tol-ikn-nusantara-pasrah-dengan-harga-ganti-rugi/

Website Pro Balikpapan diakses bulan Juli 2023: https://balikpapan.prokal.co/read/news/251118-balikpapan-kembali-raih-adipura-kencana.html

Website Warta Ekonomi diakses bulan Juli 2023: https://wartaekonomi.co.id/read146457/makin-menjamur-dprd-balikpapan-pantau-izin-minimarket

Momen yang Terngiang Hingga Sekarang

Tantangan Bulan Juni ini tentang "Kisah Berkesan Masa Sekolah/ Masa Kecil" dari Mamah Gajah Ngeblog yang idenya dariku sendiri. Mamah Dea menyumbangkan ide yang sama jadilah kami duet host bulan ini. Jauh-jauh hari aku sudah menulis draft tetapi rasa belum mantap dengan cerita yang akan dituliskan, akhirnya ganti-ganti lagi. Belum lagi dengan pertimbangan keterbatsan dokumentasi saat kecil. Akhirnya jadi cerita inilah. Selamat membaca :)



Perseteruan antar sahabat

Kejadian yang aku bingung sebenarnya kenapa bisa terjadi. Aku ini anaknya tidak gaul, terkesan cupu gitu malah. Berteman dengan siapa saja tapi cenderung minder dengan yang lebih pintar atau populer. Waktu itu aku tidak paham kalau sikap seperti itu tidak bagus. Sadarnya agak telat, saat sudah kuliah.
Temanku tidak banyak, namun kalau ada teman yang cocok denganku dan sebaliknya maka kami akan jadi sahabat dekat. Di kelas 2 SMP caturwulan 2, aku dekat dengan seseorang, sebutlah namanya Usi (nyaris nama asli). Sohib bangetlah kita. Apa-apa dan kemana-mana bersama.
Sampai pergantian caturwulan kelas diacak berdasarkan nilai rata-rata satu sekolah. Jika rata-ratanya tinggi akan menempati kelas di kasta tertinggi, kelas atas 2-1, 2-2, dan 2-3. Waktu itu aku berpindah dari 2-6 ke 2-5. Aku lupa Yusi di kelas mana yang jelas kami terpisah. Aku tidak berpikir harus bersamanya terus karena kan kalau beda kelas, maka beda teman adalah biasa. Intensitas bertemu juga pasti berpengaruh. Di kelas baru ini aku ternyata akrab dengan teman sebangku, sebutlah dia Yoda (hampir mirip nama asli). Kemana-mana termasuk ke kantin ya bersama.
Tanpa ku sadari. Suatu waktu jumpa Usi dia membuang muka. Deg! Aku yang perasa ini membaca situasi ada yang tak beres nih. Dia marah ke aku kayaknya. Soal apa ya? Kan sudah beda kelas, kapan bikin salahnya. Disitulah masalahnya. Aku akhirnya sadar kalau di Usi ini ternyata jealous karena aku tak lagi dekat dengannya. Asik dengan teman baru si Yoda itu. Seriusanlaah kayak orang pacaran ajaaa. Ngeri ya berteman sama wanita bisa kayak begitu, haha. Setelah aku tahu masalahnya, Usi dan Yoda ini juga saling konfirmasi, barulah semua kembali damai. Usi dan Yoda malah juga bisa berteman. Semua hanya berlangsung 1 cawu. Karena selanjutnya kelas diacak lagi dan aku beda teman lagi. Sungguh  memori yang pantas untuk dikenang.
Oh iya, pas udah nikah aku cerita ke suami kalau dulu punya teman deket saat SMP namanya Yoda. Agak-agak cemberut dia. Cemburu nih ye. Haha. Ketawa aja aku. Si Yoda itu cewe kok. Nama belakangnya aja Putri. Langsung cerah lagi muka pak suami hihi.



Dari sinis jadi kejutan manis

Ini pengalaman saat SMA. Aku punya sahabat yang penggemar Agnes Monica dan Shahrukh Khan. Berbadan gemoy kalau menari luwes sekali. Lebih tepat nge-dance. Dia menjadi populer karena bergabung dalam tim cheerleaders sekolah. Herannya aku tidak masuk tim tapi suka ikut kalau mereka latihan. Kenapa tidak sekalian join gitu.
Kelas 1 kami sekelas dan menjadi akrab. Anaknya memang fun dan asik sekali. Kelas 2, kami terpisah jurusan. Di satu waktu entah kenapa aku merasa dia sedang marah padaku. Beberapa hari aku galau memikirkannya, sampai suatu hari gantian aku yang menjuteki dia. Aku ingin melakukan sesuatu.
Di kelasku saat itu pelajaran Bahasa Inggris. Pengajarnya guru favoritku, Pak Setia. Berhubung aku lumayan bagus di pelajaran ini beliau ingat padaku. Selesai pelajaran aku dengan grogi minta tolong sesuatu ke beliau. Beliau kaget tapi menyanggupi. Oh thank you so much, Mr. Setia!
Selesai pelajaran beliau pas jam istirahat. Bel pun berbunyi. Aku yang malu-malu dari dalam kelas melihat keluar. Tak lama kemudian suara Pak Setia dari ruang guru menggunakan pengeras suara membuat pengumuman.
"Panggilan kepada Syahidah Khadijah dimohon segera ke ruang guru! Untuk mengambil titipan hadiah, karena sedang berulang tahun hari ini!"
Sontak satu sekolah menjadi riuh dan heboh. Lalu beliau melanjutkan mengucapkan selamat ulang tahun kepada sahabatku itu. Aku melihat sahabatku itu berjalan tersipu sepanjang lorong kelas menuju ruang guru disoraki murid-murid lain. Bak superstar disambut para fans.
Selesai dari ruang guru dia mencari-cari dan mendatangi aku ke kelas. Entah apa perasaan nya, malukah, kesalkah, atau senang. Aku lupa!

SMAN 5 Balikpapan Tahun 2005


Tembakan Pertama dan Dramanya

Masih di SMA yang sama, kelas 3.
Agar bisa lebih paham dan otomatis bagus nilainya, maka aku bersama beberapa teman ikut les matematika. Kalau mengerti rumus dan cara pakainya rasanya asik jadi bisa sampai mengajarkan ke teman yang lain.
Tahun itu adalah percobaan kurikulum baru yang bernama KBK, Kurikulum Berbasis Kompetensi. Salah satu cirinya siswa tidak punya ruang tetap, ada perpindahan kelas sesuai mata pelajaran. Semacam simulasi anak kuliahan, ganti mata kuliah berarti pindah ruang kelas.

Suatu hari ulangan matematika, otomatis tempat duduk acak setiap ganti kelas begitupun dengan teman sebangku. Aku duduk di barisan agak belakang dekat jendela, disebelahku duduk anak pemalu sebutlah namanya Andi. Tumben banget ini biasanya suka pada cari yang satu gender tapi ya sudahlah ulangan saja kan fokus. Itu pikirku, nyatanya selama ulangan ternyata Andi selalu minta bantuanku. Aku merasa terusik dong, anehnya aku mau aja membantu dia. Anaknya kan pemalu jadi dia minta bantu sebenarnya dengan engga enakan, bukan yang mode nyebelin.
Dia pernah menanyakan nomor ponselku. Aku bilang tidak punya. Adanya telepon rumah atau nomor HP ibu. Mungkin dia kecewa karena berharap bisa menghubungiku secara personal.
Sampai suatu siang aku sedang ada di rumah sendiri. Telepon rumah berdering. Aku angkat dan ada suara rusuh sayup-sayup. Kayak orang lagi gelut rebutan gagang telpon. Ternyata itu Andi bersama temannya. Rupanya temennya itu ngompor-ngomporin. Jadilah isi percakapan telepon siang itu bikin aku speecless. Bisa tebak kan apa yang dikatakan? Haha. Itulah confession pertama yang kualami. Walaupun tidak punya perasaan ke dia tapi ternyata momen ini tetap bikin dag dig dug juga ya. Seingatku sih aku tolak. Bukan karena tidak suka atau gimana ya, lebih ke akunya saja tidak terpikir dengan yang namanya pacar-pacaran. Ya kita berteman sajalah seperti biasa.
Teori! Faktanya setelah kejadian itu aku udah tidak bisa bersikap biasa lagi ke dia. Seperti ada sekat tak terlihat.
Satu kejadian di kelas ternyata ada temanku yang suka sama si Andi. Dia aktif dan secara looks lebih menarik tapi kemudian teman-teman si Andi bersorak menyebut-nyebut namaku. Rasanya gak nyaman banget dan tidak enak ke teman juga. Lalu apa yang terjadi setelah itu? Aku tak ingat. Untungnya haha.