Setelah Tercapai Impian Waktunya Bertahan

Mengenang sedikit masa-masa tak terlupakan sebagai anak rantau. Demi bisa kuliah di kampus negeri. Keluarga perjuangan dengan empat anak. Orang tua berharap kami semua bisa kuliah, dengan catatan harus kampus negeri. Bukan karena gengsi –mungkin iya juga- namun lebih ke limit anggaran jika harus ke perguruan swasta. Untuk itulah walau belum diterima kampus mana-mana, aku mantap merantau ke Jawa. Persis setelah lulus SMA.

Aku bisa saja tetap di Balikpapan sambil les persiapan ujian perguruan tinggi, tapi aku terlalu ingin #kaburajadulu dari rumah. Sebenarnya tidak ada apa-apa di rumah. Hanya saja si anak rumahan ini lelah dengan rasa dibanding-bandingkan. Bukannya memotivasi malah bikin iri dan ingin lari.


Setahun di Semarang

Sementara tinggal di Kota Semarang, ikut dikontrakan tempat kakak dan teman-teman kampusnya. Rasanya senang bisa bersama dengan kakak yang paling enak diajak ngobrol. Kami sempat berpisah lebih dari 3 tahun karena selama SMP kakak tinggal bersama bulek. Kakak juga kelihatannya senang, jadi ada teman mengumpulkan data kuesioner tugas akhirnya.

Beraktivitas nyaris tanpa beban, kecuali hari-hari jadwal bimbel. Wkwk. Aku masih belum tahu mau mengambil jurusan apa. Ada yang terpikir tapi tidak yakin.

Sampai suatu hari, kakak mendapat informasi tentang Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Kakak merasa jurusan itu akan pas denganku. Apakah aku tertarik? Iya! Akhirnya aku punya tujuan. Sejak saat itu aku berhenti bimbel dan beralih berlatih mandiri untuk tes masuk FSRD ITB. Persiapannya sangat minim hanya beberapa bulan. Panduan juga hanya didapat dari informasi secukupnya dari internet dan seorang teman kakak yang pindah kuliah dari Psikologi Undip Semarang ke Kriya Tekstil FSRD ITB.

Menjelang ujian, kakak menemani aku ke Bandung naik kereta. H-1 malam, tiba di Bandung subuh. Hatur nuhun teh Citra kami diizinkan mampir ke kosan. Sungguh, Bandung subuh tahun 2006 itu dingin sekali. Terbiasa hangat di Semarang dan Balikpapan.

Besoknya naik angkot dari Cisitu ke kampus. Keliru tempat berhenti, kami mengambil jalan yang lebih jauh dan aku harus berlari. Tidak enak sekali, ngos-ngosan ikut ujian. Baru mulai sudah pesimis duluan melihat kanan-kiri keren-keren sekali. Seperti sudah profesional. Ya sudah selesaikan saja ujian. Simpan dalam ingatan dan jadikan pelajaran.

Hasil pengumuman, seperti dugaan. Tidak diterima. Aku menyerah? Tidak! Aku masih penasaran ingin coba lagi tahun depan. Aku melobi orang tua agar diizinkan untuk tetap di Semarang, karena khawatir kalau pulang semangatnya jadi “rumahan” lagi.

Setahun kuhabiskan di Semarang untuk persiapan. Sambil jualan pin dan gantungan custom dari flanel. Juga ikut kursus software desain. Kembali menemani kakak mengumpulkan kuesioner responder tugas akhirnya, bimbingan sampai mengikuti kegiatan organisasinya sebagai peserta. Sedikit banyak jadi terbayang kehidupan mahasiswa.

 

Pasrah Pada Hasil Tes

Entah bagaimana kakak menjadi ingat, dulu pernah kenal seseorang di ITB. Kami sengaja main ke Bandung lagi untuk bertemu teh Rohni, jurusan farmasi dan tinggal di Asrama Putri Kanayakan. Namanya asrama kampus, tentu isinya mahasiswa beragam jurusan. Disinilah aku diperkenalkan dengan teteh Kriya lagi, dan diberikan tips trik mengerjakan USM FSRD ITB. Beberapa gambar hasil latihanku dikurasinya. Setelah itu aku berlatih lagi sesuai panduan teh Ully. Hatur nuhun pisan teteh.

Hari ujian tiba. Kali ini aku mengerjakan ujian lebih tenang dan yakin. Yakin mengerjakan ya. Tidak perlu terpesona dengan gambar kanan dan kiri. Kata teh Ully, gambar bagus tidak jaminan bisa diterima. Karena yang dinilai adalah apakah peserta ujian ini, nantinya masih bisa berkembang atau tidak. Noted.

Tanggal pengumuman, aku pergi ke warnet. Dag dig dug. Sebelum ini aku sudah membuat ikrar dengan diri sendiri. Aku hanya akan mencoba ujian sampai tahun kedua ini saja. Jika tidak berhasil maka aku akan pulang entah mau apa. Jadi melihat pengumuman ini seperti pertaruhan antara hidup dan mati. Lebay ah!.

“Selamat! 
Anda Dinyatakan Dapat Diterima Sebagai 
Mahasiswa Institut Teknologi Bandung”.

Eh? Baca ulang. Seriusan ini? Hwaa! Langsung takbir! Rasanya mau sujud syukur tapi tidak jadi. Bisa kepentok bilik warnet yang sempit. Jadi teriak dalam hati saja. Rasanya luar biasa bahagia. Rasa bahagia berlipat ganda saat menyampaikan ke seluruh keluarga, khususnya orang tua.


TPB, Tahun Penyesuaian Bagiku

Waktu di Semarang, rasa senang tanpa beban. Bebas belum ada tanggung jawab. Juga ada kakak yang selalu menemani. Sekarang semua sangat berbeda. Aku sudah tinggal di Bandung. Sendiri. Di kota yang aku tidak kenali. Juga tidak ada kerabat yang tinggal disini. Alhamdulillah ada modal kenal 3 teteh baik hati: teh Citra, teh Rohni dan teh Ully. Kenyataannya, berjumpa mereka juga jarang karena sudah sibuk dengan kuliahnya masing-masing.

Mengikuti serangkaian kegiatan MOS. Menikmati menjadi mahasiswa baru di kampus impian. Senang membuat bangga orang tua, sekaligus rindu jadi ingat mereka. Melihat mahasiswa baru yang selesai MOS dijemput orang tuanya. Anak-anak yang tinggal di Bandung dan tidak perlu merantau. Setiap melihat pemandangan itu, aku iri. Ingin dijemput juga.

Sering telpon-telponan dengan orang rumah. Terasa khawatirnya ibu dan bapak, anak gadisnya seorang diri di kota besar. Sanggupkah dia bertahan? Sepengetahuan meraka, aku ini sangat pendiam. Anak yang tidak pandai berkomunikasi. Jarang mengutarakan isi hati.

Pesan klasik, “Jangan lupa makan.” Sukses membuat aku berderai-derai air mata. Dilanjutkan “Lebih baik uangnya untuk beli makan daripada beli obat.”

 

Tawaran Pulang atau Tetap Bertahan?

Aku merasa nyaman berada di lingkungan seni dan desain. Meskipun aku bisa dibilang awam, dibandingkan dengan teman-teman. Penampilanku biasa diantara mereka yang modis dan trendi. Sebagian malah aneh dan ada yang “nyeni” banget. Kalau diluaran mungkin dianggap anak nakal. Padahal baik-baik loh. Disini membuka pikiran aku tentang cara memandang orang. Jangan sempit melihat penampilan. Bukan berarti tidak penting, tapi alangkah baiknya tidak menghakimi seseorang sebelum kita kenal benar.

Kembali ke urusan kampus. Aku betul-betul belajar dari awal tentang semua materi kuliah. Nirmana dwimatra, trimatra, gambar teknik dan gambar bentuk adalah mata kuliah wajib yang berkesan. Aku kebingungan dan kesulitan. Sehingga menghabiskan semester 1 belajar di asrama. Sayang aku tidak terlalu aktif dengan kegiatan KMSR. Banyak agenda yang dimulai sore sampai tengah malam, atau lebih. Bukan apa-apa, aku sedang sakit paru-paru. Sering pulang tengah malam bisa memperburuk keadaan.

Aku tidak banyak bepergian. Fokus menyelesaikan tugas-tugas kuliah sendiri. Betul-betul sendiri. Di asrama tidak ada anak FSRD lain. Aku sangat mellow, ditambah sakit dan tugas-tugas yang sulit. Setiap telponan dengan orang tua, mberebes mili. Sampai sesenggukan. Orang tua mana yang tega.

Lalu bapak bilang, “Kalau ndak kuat, apa mau pulang aja?”

Aku terdiam. Rasanya memang ingin pulang, tapi kalau yang bapak maksud aku mau menyerah tentu aku tidak mau. Sudah susah masuknya, kenapa dilepas begitu saja.

Aku memutuskan terus berjuang.

Nilai semesteran keluar. IP-ku termasuk yang rendah. Teman-teman yang kulihat banyak main pada cemerlang nilainya. Ada juga yang terlihat santai tembus juga IP 3. Apa aku terlalu serius ya?

Di semester berikutnya, aku ganti strategi. Kali ini mau banyak main. Ikut ajakan teman. Sesekali juga ikut kegiatan osjur. Pulang malam iya. Merasakan dimarah-marahi senior. Ada rasa khawatir tidak bisa pulang kalau diatas jam 12. Seperti aku bilang, mereka baik-baik. Ketua angkatan bertanggung jawab memastikan khususnya teman-teman perempuan untuk pulang dengan selamat. Diantar sampai tujuan.

Aku lebih menikmati kegiatan di kampus. Tugas-tugas masih sering aku kerjakan sendirian, namun rasanya lebih enjoy. Tidak stres. Terasa lebih ada ide dalam mengerjakan tugas-tugas. Sudah kenal dengan beberapa orang juga yang bisa ditanya-tanya. Betul ya. Kalau stres, otak akan mampet.

Alhamdulillah IP semester dua tembus angka 3. Lumayan mendongkrak IPK. Aku menemukan cara bertahan di dunia FSRD ITB. Bahagianya!

Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Maret 2025 dengan tema “Seni Bertahan Menghadapi Perubahan” selesai.

Hatur nuhun.


Comments

  1. Ah.... Sistha, baca tulisan ini di hari ini, hari pengumuman SNBP juga, rasanya saya jadi bisa merasakan ikut merindingnya keterima FSRD. Suka deh baca perjuangannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pas banget ya teteh dgn pengumuman SNBP anak. Bener teh rasa deg-degan dan bahagianya membuncah luar biasa.

      Selamat untuk teteh dan aa yaa! Ikut seneng 🤩

      Delete
  2. Sama banget, transisi jadi TPB ngga gampang juga. Langsung ngekos sendirian di Bandung dan masa TPB mayan banyak perubahan. Yang menghibur memang dunia FSRD yang beda dan welcome dengan kita yang unik ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mirip ya teh pengalaman kita. Seneng pernah kuliah di FSRD. Memberi banyak pengalaman dan sudut pandang buat saya, dalam banyak hal

      Delete
  3. Masya Allah Teh Sistha. Aku mbrebes mili lihat foto kamar Teteh di Asrama Kanayakan. Pasalnya, saya juga pernah tinggal di sana, dan kaget kok bentukan kamarnya masih sama persis ketika ditinggali Teh Sistha, padahal waktu itu saya tinggal di tahun 2004-2005. Enak ya Teh di situ. Yang paling bikin saya takjub adalah airnya bening, dingin, dan selalu mengalir deras. Seger benerrrr.
    Tunggu, tunggu... dan aku ingat pernah kenalan dengan Rohni. Bagaimana kabarnya Teh Rohni ya...☺️
    Tulisan Teh Sistha ini banyak hal relatable-nya nih. Sukaa banget 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah. Gak terlalu jauh kok teh. Saya disana tahun 2007. Kalau tidak menulis ini mungkin saya lupa kalau pernah foto kamar Asrama.
      Seketika jadi nostalgia ya teh. Kangen pengen ke Bandung menjejak memori.
      Teh Rohni beken, Super dan tangguh sekali. Beliau salah satu yang suka mengajak lari bareng di Saraga. Lumayan mengurangi sepi homesick hehe

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

8 Keinginan yang Membuat Semangat

Denah Tiga Dimensi

Kelapa, "Pundak, Lutut, Kaki"