Lika-liku Baru Masuk SD
“Kita
yang merancang, Allah yang menentukan. Mari ucap InshaAllah.”
Begitu
terngiang sebait lirik lagu dari klip Omar dan Hana. Setuju banget! Manusia cuma
bisa berencana. Terjadi atau tidak itu sudah ranah Tuhan. Karenanya setiap
usaha harus dibarengi doa dan minta petunjuk-Nya supaya apapun yang terjadi
kita legowo. Soalnya hidup ini penuh
hal-hal random yang menjadi plot
twist dalam hidup.
Sejak si
sulung memasuki usia sekolah dasar. Mendaftarlah di sebuah SD swasta. Sebagai wali
murid partisipasi sekedarnya saja. Datang ke sekolah jika ada undangan orang
tua. Antar-jemput anak oleh suami. Aku lebih banyak di rumah bersama si bungsu
yang masih 2 tahun.
Event
pertama yang cukup seru dibahas di grup adalah lomba membuat tumpeng antar
kelas. Dari 20 wali siswa, hanya 5 orang yang kontribusi aktif sampai hari
pelaksanaan di sekolah. Terbayang sibuknya wara-wiri dan koordinasi. Dalam
hatiku ingin ikut, tapi terhambat mobilitas dan rasanya bawa balita malah jadi malah pindah ngasuh. Ya sudah, jadi bagian iuran saja seperti orang tua lainnya.
Alhamdulillah kelas si sulung mendapat juara 2.
Belakangan
aku tahu, ternyata hadiahnya uang tunai. Tidak besar, tapi lumayan untuk jadi kas
kelas. Kenapa aku bisa tahu? Karena beberapa waktu setelah lomba itu, kepala sekolah meminta setiap
kelas mengirimkan 3 nama wali siswa untuk dijadikan komite kelas. Dua nama
dengan segera muncul sebagai ketua dan sekretaris. Mereka adalah ibu-ibu yang
aktif di lomba tumpeng. Tinggal 1 nama di posisi bendahara. Entah kenapa wali
kelas menyebut nama orang tua si sulung alias aku! Ditanyalah kesediaanku. Aku
terima. Sebelumnya diskusi dengan suami. Kalau-kalau kedepannya aku jadi
sedikit lebih sibuk di luar beliau siap bantu.
Dari stay home mother mendadak setahun jadi cukup
sibuk karena harus sering rapat komite seluruh kelas. Maklum sekolah banyak
event, komitelah yang otomatis menjadi panitia membantu pihak sekolah. Aku
cukup menikmati, ada kegiatan luar selain urus anak dan rumah. Sayang rekan
kelasku merasa kapok. Katanya cukup di kelas 1 saja. Sayang sekali padahal
mereka partner kerja yang bagus. Mereka tidak keberatan ditebengi aku,
sampai-sampai aku yang merasa sungkan. Aku juga jadi tidak semangat untuk
lanjut jadi komite di kelas 2 nanti.
--
Sulung naik
kelas 2. Aku melepas posisi bendahara kelas. Komite kelas dipilih kembali dan
terbentuk formasi nama-nama baru. Ini pilihan yang tepat karena aku harus
menghadapi hal genting lain terkait si sulung. Jika masih kelas 1 mungkin bisa
dimaklumi. Setahun sudah berlalu anak ini masih merasa tidak nyaman bersekolah.
Setiap pagi rasanya penuh tekanan. Dia susah dibangunkan. Mandi pagi selalu
semangat. Menjelang berangkat, sulung ini menjadi suram sekali. Perlu waktu
lama menenangkannya.
7.30
tanda masuk kelas. Namun anak kami justru baru mau berangkat sekitar jam itu. Hampir
setiap hari aku selalu minta ijin wali kelas atas keterlambatan ini. Syukurnya
wali kelas memaklumi. Kami juga sudah pernah menghadap kepala sekolah
menceritakan kondisi psikologis anak kami.
Setiap pagi
menghadapi situasi ini. Turut menguras emosiku. Aku sadar anak kami mengalami stress
pergi sekolah. Dia sudah pernah mengungkapkan isi hati tentang sekolah. Memang dari
anak kami yang tampaknya tidak enjoy
sekolah. Ah, bagaimana mau menyerap materi pelajaran, kalau mentalnya dia saja
kacau balau begini. Kondisi fisiknya juga sudah terdampak. Sering sekali sakit.
Sekali sakit bisa ijin 3-4 hari tidak sekolah. Pernah coba dipaksakan.
Siang-siang mendapat telpon dari guru bahwa sulung sakit. Menjadi selemah itu.
Aku dan
suami berpikir apa pindah ke SD swasta lain. Kok rasanya akan sama saja. Salah
satu yang tidak cocok di anak kami adalah fullday
school, sedangkan rata-rata SD Islam disini seperti itu. Beralih ke sekolah
negeri tidak bisa karena status KK belum lokal.
Random. Pemikiran jaman mahasiswa muncul. Tentang pendidikan
anak berbasis rumah. Jauh sebelum menikah, aku sudah tertarik dengan metode
ini. Aku sampaikan hal ini ke suami. Dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi
dari berbagai sudut pandang sepertinya itu pilihan yang paling tepat. Namun jalan
ini jelas-jelas tidak mudah. Terlebih pelaksana utamanya adalah aku. Terbayang akan
24 jam membersamai 2 anak.
Untuk mempersiapkan
diri, aku membeli buku juga ikut kelas online. Aku harus paham dulu tentang
makna homeschooling dan bagaimana
urusan legalitas terkait ijazah anak. Ini bukan hal sederhana. Sekali sudah
mencabut anak dari sekolah formal, harus all-out
membimbingnya di rumah.
Tekad
sudah bulat. Si sulung hanya sampai kelas 2 saja. Kelas 3 anak kami mulai
pendidikan dari rumah. Itu rencananya. Faktanya, kondisi anak kami semakin
payah. Membuat kami akhirnya memutuskan cukup sampai semester 1 saja. Sulung
akan memulai “hidup baru” di kelas 2 semester 2.
Melewati
fase deschooling, keceriaan si sulung
kembali hadir. Sekitar 6 bulan setelah keluar dari sekolah
Formal,
terasa sekali kondisi fisiknya membaik. Nafsu makannya meningkat. Anak ini juga
suka belajar dan mudah paham. Hal yang tidak terlihat selama bersekolah. Stress
mengaburkan semuanya.
Kejutan lain saat ramadan kemarin. Entah energi darimana, si sulung selalu semangat sahur. Juga melampaui target puasa, hanya 15 hari berhasil sampai 26 -dan setengah- hari. Padahal tahun lalu untuk selesai 1 hari saja rasanya payah sekali. Progres yang membahagiakan. Alhamdulillah ya Allah.
![]() |
| "Tracking Target Ramadan Si Sulung" |
Tulisan kedua tahun 2026 untuk tantangan blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan april tentang "Cerita Random". Aslinya masih ada yang mau dituliskan, tapi batas waktu telah tiba harus segera submit.


Comments
Post a Comment