Penjaga Warung

Diantara saudara-saudaraku, aku yang lebih dikenal berjiwa pedagang. Lebih tepatnya, aku selalu punya cara menghasilkan uang. Kalau dipikir-pikir ini bukan karena aku berotak bisnis atau gimana. Lebih karena aku pengen jajan makanan yang harganya diatas daya beli.

Kuperkirakan saat itu aku masih kelas 4 atau 5 SD. Katakanlah uang sakuku 200 rupiah per hari, sedangkan aku ingin beli gado-gado atau bubur ayam seharga 500. Selisihnya lumayan banyak ya. Mau minta tambahan sangu ke orang tua tidak tega. Gak yakin juga akan dikabulkan. Jadinya lebih sering memandang teman-teman yang makan.

Uang itu sebenarnya cukup untuk beli panganan kecil. Saat jam istirahat aku tetap pergi ke kantin. Kadang ada teman yang nitip beli. Kelas kami terletak di lantai 2. Sebagian anak merasa malas untuk bolak-balik melewati tangga. Aku yang tidak enakan mau-mau aja lagi. Jadi sering dititipi deh.

Sampai suatu hari entah bagaimana dimulainya, salah seorang yang nitip memberi uang jasa padaku. Ternyata hal ini diikuti teman yang lain. Seketika aku jadi kurir food. Gara-gara ini aku bisa punya uang lebih dan bebas memilih jajan. Aku senang sekali!

- - -

Masa kelas 6 SD hari-hari sibuk dengan persiapan ujian kelulusan, perpisahan, dan dorongan untuk masuk SMP unggulan. Oh, dan jaga warung!

Bapak baru-baru ini menyulap sebagian teras yang biasa untuk parkir menjadi warung sembako. Layout dan posisi barang-barang dirancang sendiri oleh bapak.

Hari pertama buka, warung masih agak kosong. Modal terbatas sehingga bapak mensiasati stok barang sedikit namun variasi barang beragam.

Meski malu-malu tapi sebenarnya mau melayani pembeli. Ya, beberapa kali aku dipercaya jaga toko. Kadang kesulitan ambil barang yang digantung. Ambilnya harus pakai kursi. Kadang pembeli yang ambil sendiri. Mungkin kasihan lihat bocah kerepotan.

Aku memang terlihat seperti bocah SD kelas kecil, padahal sudah mau SMP. Kadang pembeli ragu-ragu dilayani olehku.

Warung bapak pelan-pelan semakin ramai. Ramai barang display dan juga ramai pembeli.

Selain jaga warung, aku juga suka ikut belanja stok barang ke “Warung Kita”. Namanya menggelitik dan menarik. Bersebelahan dengan "Toko Sederhana" yang juga menjadi toko grosir andalan. Mataku jelalatan melihat aneka barang di sana. 

Awalnya hanya melihat-lihat. Sering mampir, lama-lama aku ikut memilih. Terutama rekomendasi jajan untuk anak-anak. Ya, itu kaumku.

Satu benda menarik perhatianku. Kasir toko menghitung dengan cepat menggunakan kalkulator yang sudah pudar angka-angkanya!

Selain kagum dengan kecepatan dan ketepatan jari-jari memencet tombol, aku bergumam dalam hati. Berapa lama usia kalkulator dan berapa banyak transaksi diperlukan untuk membuat angka-angkanya hilang?

Warung semakin ramai. Apalagi ada bimbel yang baru buka tak jauh dari rumah kami. Setiap waktu jeda rehat, aku akan kewalahan melayani anak-anak bimbel.

Sungguh menyenangkan hati. Hingga waktu pun terlupakan. (potongan lirik lagu Mojacko)

Tiba-tiba dapat kabar, keluarga kami akan pindah kota. Ini adalah perpindahan yang keempat kalinya sejak aku lahir. Agak terbiasa, walau tidak suka harus adaptasi lagi di tempat baru.

Jika kami pindah, artinya pada tahun ajaran baru ini kami semua pindah sekolah. Momennya pas dengan  aku naik jenjang ke SMP dan Kakak Mas ke SMA. Namun, pertimbangan berat untuk Kakak Mbak yang sudah kelas 3 SMA. Persiapan masuk universitas tidak main-main. Ibu bapak menekankan hanya bisa membiayai kampus negeri. Mbak sangat serius. Pindah sekolah di waktu-waktu itu akan menyita banyak energi dan waktu. Masa belajar di tahun akhir sangat singkat kan.

Akhirnya diputuskan, Mbak tidak ikut pindah. Mbak akan tinggal, ditemani dengan sepupu. Aku lupa menceritakan bahwa di rumah itu kami tinggal bersatu satu ponakan bapak, yaitu sepupuku.

Aku sedih memikirkan nasib warung. Jelas akan tutup. Mbak tidak akan sempat mengurus karena fokus persiapan lulus SMA dan ujian masuk universitas.

Sayang sekali warung ditinggal saat sedang ranum-ranumnya.

Dan ide gila itu muncul.

Aku memilih untuk tinggal.

Bukan semata-mata untuk warung. Tapi aku juga tidak tega meninggalkan Mbak sendiri.

Mbak adalah saudara yang paling tegas namun perhatian. Juga paling mudah dibuat tertawa. Selain itu ada perasaan tidak rela harus berpisah lagi dengan Mbak.

Selama 3 tahun SMP, mbak tinggal dengan bulek di Kota. Alasannya pendidikan di kota lebih maju daripada ikut bapak pindah ke Kabupaten. Padahal selama itu Mbak banyak mengalami kejadian tidak menyenangkan.

Jadi kali ini aku mau menemani Mbak. Semua orang di rumah kaget. Niatku dianggap bercanda. Aneh juga. Kok ada anak lebih milih menemani kakaknya dan tinggal berpisah dengan orang tua. Apa tidak sedih? Sedihlah! Namun aku lebih memilih tidak membiarkan Mbak menangis sendiri.

Setelah keputusan ditetapkan. Aku benar-benar ditinggal berdua Mbak, dan sepupu. Rumah jadi terasa lengang dan sepi. Biasanya ramai dengan empat bersaudara. 

Untungnya ada warung yang dibolehkan untuk tetap buka. Siapa yang jaga? Aku. Warung buka setiap setelah pulang sekolah. Setiap transaksi dicatat. Setelah toko tutup, hasil penjualan dihitung. Cocokkan angka di catatan dengan jumlah uang di laci. Cek barang apa yang habis atau stok menipis. Siap-siap belanja lagi diantar Mbak.

Sayang, waktu kebersamaan dengan Mbak -dan lovely warung- hanya 2 caturwulan saja. Pada cawu ke-3, aku menyusul pindah.

Mbak juga sudah siap-siap ujian SMA. Kemudian lanjut ke Jawa untuk persiapan ikut bimbel intensif masuk universitas.

Masa-masa mengharukan melepas Mbak yang seorang diri berjuang di perantauan. Baru saja kumpul saat SMA eh tidak sampai 3 tahun harus berpisah lagi. Kalau aku tidak nekad tinggal menemani mbak, mungkin aku akan menyesal sekarang.

Mbak tidak pernah menyangka ada orang yang akan menemaninya. Ditinggal sendiri di masa-masa perjuangan bukan hal yang mudah. Apalagi mbak punya riwayat maag dan vertigo. Semakin tidak tegalah adiknya ini. Syukurlah aku memilih untuk tinggal. Hubungan kami dekat sampai sekarang.

Kenangan mengelola warung juga memberi pengalaman tak terlupakan. Suatu hari nanti rasanya ingin punya lagi.


Mencoba kembali menulis setelah beberapa bulan melewatkan  "Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog". Komunitas positif yang menjaga konsistensi untuk terus ngeblog.


Comments

Popular posts from this blog

8 Keinginan yang Membuat Semangat

"Korban" Fast Fashion

Soto-soto yang Dirindu